Minggu, 31 Januari 2016

Hai, It is Me! (Ayah's Story)

Assalamu'alaykum #catatanmuti...

Diawali dengan mengenalkan seorang Ayah, pahlawan tanpa tanda jasa.. Tanpanya, saya tak akan pernah hadir di dunia ini, semua sudah menjadi rencanaNya, oleh sebaik-baiknya Perencana, ALLAH SWT :)

His name is Deni Rohadian. Ayah terlahir dari Ibu yang berasal dari Sukabumi dan Bapaknya yang berasal dari Bogor, masih sama-sama suku Sunda ya... Mereka adalah seorang pedagang dan menerima jasa percetakan (sablon) di daerah Kebonjati, Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia). Bisa dibilang dari segi pendidikan formal, orangtuanya tidak terlalu konsen pada hal pendidikan, ya bisa dibilang "saguluyurna we", hehe. Dan beruntungnya, dari 5 bersaudara, hanya Ayah lah yang bisa melewati jenjang pendidikan S1 dan S2. Alhamdulillah...

Melihat perjuangan Ayah untuk sekolah sejak itu, patut putrinya acungi jempol, hehe. Ayah bilang dulu Ayah itu termasuk siswa yang "tidak pintar" dikelasnya, apalagi jika dihadapkan dengan mata pelajaran matematika, gak sanggup!! hehe. Eh eh eh, sekarang malah jadi guru matematika yang bisa mengantarkan banyak murid memahami ilmu logika ini. Matematika itu sulit, tapi sebetulnya menyenangkan loh! Teruus, apa sih yang membuat Ayah bisa sampai menjadi sekarang? Yang tadinya menjadi salah satu murid yang belum pintar di antara kawan-kawannya dan sekarang malah matematika ini sudah menjadi passion nya, bahkan bisa mengantarkan dirinya untuk tinggal dan mengajar di luar negeri. Setelah ditelusuri, ternyata Ayah ini mempunyai modal rajin dan tekun dalam mengerjakan apapun. Good job, Dad! (Konon hal ini turun sama putri satu-satunya ini loh, "gak pinter, tapi rajin" haha).

Sayangnya dulu kita tak punya kamera untuk mengabadikan moment-moment berharga itu, hehe.

Okay, masih berbicara tentang Ayah ni... Ayah itu adalah laki-laki pekerja keras, bertanggung jawab, laki-laki hebat yang pernah saya temui. Kasih sayang dan perjuangannya itu sangat besar untuk keluarganya. Menurut penuturan Ibu, sejak dulu Ayah itu berangkat subuh pulang malam, karena jarak rumah dan sekolah itu jauh dan Ayah mencari tambahan uang dari ngeles muridnya ke rumah-rumah (yang jaraknya dari satu tempat ketempat lain itu jauh), pakai angkutan umum pula. Kenapa sampe segitunya? Demi sekaleng susu "Morinaga", dan biaya hidup yang gak sedikit pada waktu itu. Beberapa diantaranya adalah untuk biaya kontrak rumah panggung, sekolah S1, biaya hidup kedua anaknya, membantu Ibu membiayai ke enam adiknya, dsb. Allah lah yang memberi rezeki kepada setiap makhlukNya, kita sebagai makhlukNya hanya bisa berusaha untuk menjemput rezeki yang telah Allah hamparkan di bumi ini...

Kira-kira sejak saya berusia 6 atau 7 tahun, yang waktu itu sudah sekolah di Taman Kanak-Kanak, Ayah Alhamdulillah mendapat kesempatan untuk mengajar di Luar Negeri, tepatnya di negara Hongkong. Dari sana Alhamdulillah kami bisa hidup layak, tapi ujiannya kita semua harus berpisah dalam waktu 4 tahun, karena Ibu kerja juga di Indonesia, jadi gak bisa ikut Ayah ke Hongkong, dan kedua anaknyapun ikut Ibu tinggal di Sukabumi. Yang paling menyedihkan kata ayah adalah ketika tiba waktunya pulang ke Indonesia, sejak bertemu di Bandara, Akang dan Teteh (sebutan untuk anak ke-1 dan ke-2) bengong dan tidak kenal dengan Ayahnya sendiri. Ayah nangis dan sedih katanya (hehe) sambil peluk anak-anaknya. Belum ngeh kali ya, karena masih kecil, dan yang hanya saya ingat adalah saya mendapat banyak boneka dan barbie dari Ayah waktu itu, haha. Dan itu menyenangkan bagi si saya kecil.

Setelah mengajar di Hongkong, Ayah kembali ke Indonesia dan mengajar di SMA tempat saya sekolah dulu, SMA Negeri 1 Kota Sukabumi. Menurut uwa-uwa yang pernah Ayah ajari, Ayah itu guru yang tegas, lurus dan disegani oleh murid-muridnya. Yang saya ingat pada masa itu, dulu saya pernah di ajak masuk kelas ketika Ayah mengajar di kelas (waktu itu kelas SD kayaknya), dan suka diajak untuk mengambil gaji bulanan dan setelahnya jalan-jalan dan jajan, hha. Sangat menyenangkan!

Tak lama dari itu, Ayah dipercaya menjadi seorang Kepala Sekolah di SMP Islam An-Nuur, sekolah yang
didirikan oleh salah satu tokoh terbaik di daerah saya, Ust. Abdul Razak (Alm). Sejak Ayah diangkat menjadi kepala sekolah, bertepatan dengan masuknya saya dari SD ke SMP. Pada saat itu ambisi saya yaitu ingin masuk SMP Negeri dan ikut program Akselerasi.  Dan kemudian Ayah bilang, "Boleh teteh masuk sekolah Negeri, tapi Ayah lebih senang kalau teteh masuk sekolah yang Ayah pimpin, karena Ayah ingin mendidik teteh langsung dibawah pengawasan Ayah." Akhirnya saya urungkan untuk masuk sekolah Negeri waktu itu, sedih juga, karena saudara-saudara dan teman-teman seangkatan masuk sekolah Negeri yang bergengsi pada waktu itu :( Akhirnya saya berpikir, sekolah dimanapun, ridha orangtualah yang utama, keikhlasan dan do'a-do'a mereka yang akan menembus langit. InsyaAllah.


SMP Islam An-Nuur. Yang saya rasakan ketika kepemimpinan ada di tangan Ayah, SMP ini berkembang dengan pesat, murid terbanyak yang pernah ada sepanjang sejarah di An-Nuur bahkan sampai saat ini, banyak soft skill yang Ayah berikan untuk murid-muridnya; PKH, Pramuka, Bela Diri, Sablon, budidaya Jamur, dan ekstrakurikuler lainnya. Yang saya suka adalah program sebelum masuk kelas, kita berkumpul di mesjid dan solat dhuha bersama serta berdoa bersama sebelum masuk kelasGreat! Alhamdulillah Allah berikan keberkahan untuk Ayah. Oia, walaupun Ayah sebagai kepala sekolah, Ayah itu suka bersih-bersih kantor, kelas, sapu-sapu sekolah loh! Jarang liat kepala sekolah melakukan itu sekarang. Tidak hanya berani memimpin, tapi juga terjun langsung dan menjadi contoh buat yang lain, termasuk kepada anaknya sendiri. Di Sekolah, dia tidak pernah membedakan anak-anaknya dengan murid yang lain. Malah lebih "strict" dalam mendisiplinkan anaknya, karena bagaimanapun anak-anaknya akan menjadi contoh dan figur bagi orang lain. Proud of you, Ayah!




Tak lama dari itu, Ayah kembali melamar kerja di luar negeri. Alhamdulillah mendapat panggilan menjadi guru di Singapore selama 4 tahun. Dan kembali lagi ke Indonesia, mengajar di SMK Negeri 1 Kota Sukabumi. Dan Kembali mendapat panggilan untuk mengajar di Jeddah hingga saat ini (tahun ke 5). Walaupun jauh, tapi Alhamdulillah berkahnya Ayah bisa umrah satu minggu sekali pada hari Jum’at ke Mekkah dan sekarang ada Ibu yang menemani setiap harinya.


Do’anya ya semoga Ayah diberikan kesehatan, kebaikan, dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Aamiin ya Rabbal’alamiin…


"Cikaracak ninggang batu, lila-lila jadi legok" (Papatah Sunda).

1 komentar:

  1. Perkenalkan saya Faidzin. Saya dulu pernah dinas ke Sekolah Indonesia Jeddah. Ini saya lagi mengenang waktu ke SIJ 2013 lalu. Saya searching nama Pak Deni, ketemu blog ini.
    Salam untuk Pak Deni, Saya Faidzin dari Kemdikbud yang dulu ditemani umroh Bareng Pak Zaenal, Pak Parno dan Pak Dahlan.

    BalasHapus