Assalamu'alaykum... #catatanmuti
Kurang
lebih sembilan bulan raga ini berada di dalam rahimnya. Allah meniupkan ruh
pada rahimnya dan menjadikan diri ini sebagai salah satu Khalifah di muka bumi
ini.. Thanks for everything, Ibu!
Her name is Yeni Supartini. Ibu terlahir dari seorang Bapak TNI (Aki) dan
seorang Mama (Enin) yang dari kecil di asuh dan berada di lingkungan seorang
petinggi di Sukabumi kala itu. Mendengar cerita Ibu tentang sosok Aki, membuat
saya rindu untuk bisa bertemu dengan sosok beliau; gagah, "aya hima an", bodor, jujur,
berprinsip, dan pada akhirnya semua orang segan dan hormat
kepadanya. On the other hand, Aki ini
seorang yang suka bercanda juga dan pandai bersosialisasi dengan orang lain.
Walau saya tak sempat bertemu dengannya, tapi begitulah sosok Aki yang selama
ini saya tangkap dari semua cerita Ibu dan keluarganya :)
Ibu merupakan anak kedua
dari delapan bersaudara. Tapi karena kakak Ibu sakit sejak kecil, beliau
meninggal pada waktu balita, kalau tidak salah usia 2 tahun. Dan Ibu lah
sekarang yang menjadi anak tertua diantara ke enam adiknya (4 perempuan dan 2
laki-laki). Mereka berasal dari keluarga yang terpandang kala itu di Nagrak, Jampang
Kulon. Kalau ke Jampang,
ibaratnya satu kecamatan yang luas itu, semuanya keluarga, hihi, lirik tetangga
kanan kiri depan belakang, semuanya keluarga. Alhamdulillah...
Sampai pada suatu hari,
Bapaknya Ibu sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit. Ketika itu Ibu berusia
remaja, SMA. Kalau gak salah Aki itu sakit diabetes yang berdampak pada jantungnya (Jadi
kalau dari garis keturunan, si saya ini sangat kuat banget turunan penyakit
diabetes. Karena kedua orang tua dari pihak Ayah dan Ibu, dulu
meninggal karena penyakit tersebut. Sebetulnya bukan karena penyakit turunan sih ya, tapi pola hidup yang diturunkan, hehe.). Karena di kampung tidak tersedia alat
kesehatan yang memadai, akhirnya Aki di rujuk ke RSPAD di Jakarta.
Dari awal yang mengantar
Aki sakit itu adalah Ibu, putri pertamanya. Karena Enin harus mengurus anak-anak
yang lain di kampung. Bisa dibayangkan seorang remaja perempuan dari kampung,
datang ke kota besar seperti Jakarta, untuk mengantarkan Bapaknya berobat. Gak
tau jalan, uang seadanya (maklum gak ada ATM atau GPS kayak sekarang, hihi),
pokoknya serba gak tau dan terbatas, Alhamdulillah Allah memberikan mereka
petunjuk, dan akhirnya sampailah di RSPAD. Saya kurang tahu tentang lamanya Aki
dirawat di sana. Tapi yang Ibu suka ceritakan, Aki itu waktu sakit aja gak bisa
diem, ngobrol sana-sini, seperti tidak sedang sakit parah. Malahan menurut penuturan Ibu, anaknya (Ibu) beli mie ayam, beiau juga "ngarewong"
makanannya, maklum lah ya, sama-sama seneng jajan, hehe. Makanya dulu Aki suka
bilang ke orang-orang kalau putrinya ini harus kerja karena hobinya jajan sama
kayak Bapaknya (dan terbukti kerja, hehe). Selain itu, dulu Ibu yang full merawat Aki ketika sakit, sampai Ibu bisa pasang "kateter"
buat Aki. Proud of you, bu!
Dan akhirnya, tidak lama
dari situ (setelah diputuskan membaik oleh dokter dan boleh pulang ke rumah
dengan keadaaan yang sudah membaik), di rumah Nagrak Sari, Aki pun berpulang
kepangkuanNya.. Semoga Aki diberikan kebaikan selalu ya disana, we miss you so much, Aki Empin :)
Dan dari situlah,
perjuangan Ibu dimulai, sebagai anak pertama, dengan seorang Mama yang tidak
bekerja dan hanya mendapat uang pensiun bulanan untuk membiayai ketujuh
anaknya. Setelah lulus SMA, ibu diambil oleh Uwa nya di Sukabumi (kakaknya
Mama). Sebelumnya, Ibu juga pernah dibawa ke Bogor oleh saudaranya yang lain,
kehidupan yang “tidak baik” membuat Ibu diambil kembali oleh Uwanya ke
Sukabumi. Pahit dan sulitnya hidup sudah pernah Ibu rasakan di perkotaan. Akhirnya di Sukabumi lah si gadis Ibu berlabuh, Ibu ikut pelatihan kursus akutansi waktu itu dan masuk kerja
di BRI. Di BRI Sukabumi sendiri Ibu merupakan salah satu angkatan wanita pertama di BRI
kala itu. Sewaktu itu, Ibu tinggal di rumah Uwa nya dulu, Ibu bantu-bantu
mereka juga dan mengurus sepupu-sepupunya yang masih kecil sebelum kerja. Beberapa waktu
kemudian, setelah dirasa semuanya aman, Ibu pun membawa beberapa adiknya ke
kota dan menyewa rumah disana. Ibu menyekolahkan dan menghidupi
adik-adiknya. Hingga waktunya menikah dengan Ayah, Ibu juga masih membawa
adik-adiknya, karena itu sudah menjadi tanggung jawab Ibu sebagai seorang kakak.
Ayah dan Ibu menikah pada
tahun 1990 di rumah Uwa Ibu di Nyomplong. Dan tahun 1991 lahirlah Akang, dan
tahun berikutnya lahirlah saya. Berbicara soal melahirkan, Akang dan saya itu
berbeda satu tahun saja, Akang Juni 1991 dan saya Juli 1992. Kalau liat dari
tubuhnya sih kayak anak kembar kala itu, beda wajah aja kayaknya, hehe.
Masa-masa kritis itu, Alhamdulillah bisa Ayah dan Ibu lewati. Tak mudah bagi
seorang Ibu yang harus bekerja di luar rumah, mempunyai dua anak yang masih
kecil dan membawa adik-adiknya serta merta. Terlebih lagi bekerja di Bank, bisa
dibayangkan pakepuk nya seperti apa. Ya inilah perjuangan,
demi keluarga, demi anak-anak, semua usaha dilakukannya.
Nah, tahun 1999, ketika perekonomian sudah membaik karena Ayah kerja
di Hongkong kala itu, lahirlah seorang baby yang berambut tebal dan keriting,
ampuuun deh lucunya tu baby, gemeees.
Jadi dulu itu Ayah berdoa supaya diberikan lagi anak satu, laki-laki atau
perempuan tidak masalah, yang penting "curly hair", karena
kedua anaknya waktu itu gak ada yang keriting, sedangkan Ayah itu berasal dari
keluarga yang rambutnya keriting semua. Supaya ada keturunan keriting lah ya
intinya, haha. Alhamdulillah bulan
Oktober 1999 lahirlah pasukan baru di kelurga kami :)
Sebagai gambaran,
bekerja di Bank kala itu, staf-stafnya suka di oper-oper tempat kerjanya, baik dari kota ke kampung atau
sebaliknya. Ibu pernah merasakan kerja di hampir semua unit bank di Sukabumi.
Paling jauh ya di Surade, sampai harus memboyong ketiga anaknya ini ke kampung,
juga pindah sekolah disana. Amazing banget
lah waktu itu ;) Ayah dan Ibu memang bersinergi dalam menyelaraskan hubungan keluarga.
Kita berjalan jauh ke
tahun-tahun berikutnya yaaa, yang dimana ketika anak-anak sudah beranjak dewasa. Ibu memutuskan untuk menyudahi
karir nya (2014), yang waktu itu masih ada 9 tahun lagi jatah kerjanya. Sulit bagi Ibu
untuk resign dari tempat kerjanya,
karena prestasi dia yang baik dalam bekerja, dan pada akhirnya dia diangkat
sebagai supervisor di unit BRI RS Betha Medika, dan terakhir menjadi SDM di
Cabang. Ibu mengajukan pengunduran diri beberapa kali, tetep saja di tolak.
Akhirnya Ibu mengundurkan diri secara sukarela (PDS), tanpa ada apa-apa.
Kata ampuh yang bikin
putrinya merinding ketika dia berhadapan dengan Pimpinan dan meminta untuk
resign adalah: “Begini Pak, kalau memang
BRI menjamin saya masuk Syurga, saya akan terus bertahan disini, tpi karena
Syurga saya ada di dekat suami saya, maka saya ingin mendampingi suami saya
menuju Syurga itu”, kurang lebih intinya gitulah kalimatnya yang saya tangkap. Finally, Ibu merelakan jabatannya yang sudah 25 tahun ia bangun.
Karena selama ini ketika Ayah kerja diluar, Ibu belum bisa mendampingi penuh,
disebabkan oleh pekerjaan dan anak-anak yang masih kecil. Tapiii, Alhamdulillah senang sekali mendengar
kehidupan Ibu sekarang, bisa bebas dari keterikatan pekerjaan. Selain ikut Ayah
di Jeddah, Ibu juga sekarang bebas untuk menjenguk anak-anaknya dimanapun dan
kapanpun, tanpa harus izin cuti dari kantor yang terbatas dan kring kring bunyi telepon kantor ketika
kami berlibur, hehe. Sudah gak ada lagi hal ituuuu :P
Oke, pelajaran yang
dapat di ambil dari seorang Ibu itu banyaaak banget nget nget… Tapi salah satu yang saya highlight sekarang adalah: Apapun
pekerjaan kita nanti, semua harus atas izin suami kita. Ini semua menjadi
pelajaran berharga bagi putri satu-satunya ini. Ibu selalu berpesan, jadilah
wanita yang solehah, berilmu, berbakti kepada suaminya, menjadi Ibu yang baik bagi putra-putrinya kelak, dan bermanfaat bagi orang banyak.
I love you so much, Bu!
I love you so much, Bu!
You are my inspiration…




Tidak ada komentar:
Posting Komentar