Selasa, 16 Februari 2016

Hai, It's me! (Ibu's Story)

Assalamu'alaykum... #catatanmuti

Kurang lebih sembilan bulan raga ini berada di dalam rahimnya. Allah meniupkan ruh pada rahimnya dan menjadikan diri ini sebagai salah satu Khalifah di muka bumi ini.. Thanks for everything, Ibu!

Her name is Yeni Supartini. Ibu terlahir dari seorang Bapak TNI (Aki) dan seorang Mama (Enin) yang dari kecil di asuh dan berada di lingkungan seorang petinggi di Sukabumi kala itu. Mendengar cerita Ibu tentang sosok Aki, membuat saya rindu untuk bisa bertemu dengan sosok beliau; gagah, "aya hima an", bodor, jujur, berprinsipdan pada akhirnya semua orang segan dan hormat kepadanya. On the other hand, Aki ini seorang yang suka bercanda juga dan pandai bersosialisasi dengan orang lain. Walau saya tak sempat bertemu dengannya, tapi begitulah sosok Aki yang selama ini saya tangkap dari semua cerita Ibu dan keluarganya :)




Ibu merupakan anak kedua dari delapan bersaudara. Tapi karena kakak Ibu sakit sejak kecil, beliau meninggal pada waktu balita, kalau tidak salah usia 2 tahun. Dan Ibu lah sekarang yang menjadi anak tertua diantara ke enam adiknya (4 perempuan dan 2 laki-laki). Mereka berasal dari keluarga yang terpandang kala itu di Nagrak, Jampang Kulon. Kalau ke Jampang, ibaratnya satu kecamatan yang luas itu, semuanya keluarga, hihi, lirik tetangga kanan kiri depan belakang, semuanya keluarga. Alhamdulillah...

Sampai pada suatu hari, Bapaknya Ibu sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit. Ketika itu Ibu berusia remaja, SMA. Kalau gak salah Aki itu sakit diabetes yang berdampak pada jantungnya (Jadi kalau dari garis keturunan, si saya ini sangat kuat banget turunan penyakit diabetes. Karena kedua orang tua dari pihak Ayah dan Ibu, dulu meninggal karena penyakit tersebut. Sebetulnya bukan karena penyakit turunan sih ya, tapi pola hidup yang diturunkan, hehe.). Karena di kampung tidak tersedia alat kesehatan yang memadai, akhirnya Aki di rujuk ke RSPAD di Jakarta.

Dari awal yang mengantar Aki sakit itu adalah Ibu, putri pertamanya. Karena Enin harus mengurus anak-anak yang lain di kampung. Bisa dibayangkan seorang remaja perempuan dari kampung, datang ke kota besar seperti Jakarta, untuk mengantarkan Bapaknya berobat. Gak tau jalan, uang seadanya (maklum gak ada ATM atau GPS kayak sekarang, hihi), pokoknya serba gak tau dan terbatas, Alhamdulillah Allah memberikan mereka petunjuk, dan akhirnya sampailah di RSPAD. Saya kurang tahu tentang lamanya Aki dirawat di sana. Tapi yang Ibu suka ceritakan, Aki itu waktu sakit aja gak bisa diem, ngobrol sana-sini, seperti tidak sedang sakit parah. Malahan menurut penuturan Ibu, anaknya (Ibu) beli mie ayam, beiau juga "ngarewong" makanannya, maklum lah ya, sama-sama seneng jajan, hehe. Makanya dulu Aki suka bilang ke orang-orang kalau putrinya ini harus kerja karena hobinya jajan sama kayak Bapaknya (dan terbukti kerja, hehe). Selain itu, dulu Ibu yang full merawat Aki ketika sakit, sampai Ibu bisa pasang "kateter" buat Aki. Proud of you, bu!

Dan akhirnya, tidak lama dari situ (setelah diputuskan membaik oleh dokter dan boleh pulang ke rumah dengan keadaaan yang sudah membaik), di rumah Nagrak Sari, Aki pun berpulang kepangkuanNya.. Semoga Aki diberikan kebaikan selalu ya disana, we miss you so much, Aki Empin :)




Dan dari situlah, perjuangan Ibu dimulai, sebagai anak pertama, dengan seorang Mama yang tidak bekerja dan hanya mendapat uang pensiun bulanan untuk membiayai ketujuh anaknya. Setelah lulus SMA, ibu diambil oleh Uwa nya di Sukabumi (kakaknya Mama). Sebelumnya, Ibu juga pernah dibawa ke Bogor oleh saudaranya yang lain, kehidupan yang “tidak baik” membuat Ibu diambil kembali oleh Uwanya ke Sukabumi. Pahit dan sulitnya hidup sudah pernah Ibu rasakan di perkotaan. Akhirnya di Sukabumi lah si gadis Ibu berlabuh, Ibu ikut pelatihan kursus akutansi waktu itu dan masuk kerja di BRI. Di BRI Sukabumi sendiri Ibu merupakan salah satu angkatan wanita pertama di BRI kala itu. Sewaktu itu, Ibu tinggal di rumah Uwa nya dulu, Ibu bantu-bantu mereka juga dan mengurus sepupu-sepupunya yang masih kecil sebelum kerja. Beberapa waktu kemudian, setelah dirasa semuanya aman, Ibu pun membawa beberapa adiknya ke kota dan menyewa rumah disana. Ibu menyekolahkan dan menghidupi adik-adiknya. Hingga waktunya menikah dengan Ayah, Ibu juga masih membawa adik-adiknya, karena itu sudah menjadi tanggung jawab Ibu sebagai seorang kakak.

Ayah dan Ibu menikah pada tahun 1990 di rumah Uwa Ibu di Nyomplong. Dan tahun 1991 lahirlah Akang, dan tahun berikutnya lahirlah saya. Berbicara soal melahirkan, Akang dan saya itu berbeda satu tahun saja, Akang Juni 1991 dan saya Juli 1992. Kalau liat dari tubuhnya sih kayak anak kembar kala itu, beda wajah aja kayaknya, hehe. Masa-masa kritis itu, Alhamdulillah bisa Ayah dan Ibu lewati. Tak mudah bagi seorang Ibu yang harus bekerja di luar rumah, mempunyai dua anak yang masih kecil dan membawa adik-adiknya serta merta. Terlebih lagi bekerja di Bank, bisa dibayangkan pakepuk nya seperti apa. Ya inilah perjuangan, demi keluarga, demi anak-anak, semua usaha dilakukannya.



Nah, tahun 1999, ketika perekonomian sudah membaik karena Ayah kerja di Hongkong kala itu, lahirlah seorang baby yang berambut tebal dan keriting, ampuuun deh lucunya tu baby, gemeees. Jadi dulu itu Ayah berdoa supaya diberikan lagi anak satu, laki-laki atau perempuan tidak masalah, yang penting "curly hair", karena kedua anaknya waktu itu gak ada yang keriting, sedangkan Ayah itu berasal dari keluarga yang rambutnya keriting semua. Supaya ada keturunan keriting lah ya intinya, haha. Alhamdulillah bulan Oktober 1999 lahirlah pasukan baru di kelurga kami :)



Sebagai gambaran, bekerja di Bank kala itu, staf-stafnya suka di oper-oper tempat kerjanya, baik dari kota ke kampung atau sebaliknya. Ibu pernah merasakan kerja di hampir semua unit bank di Sukabumi. Paling jauh ya di Surade, sampai harus memboyong ketiga anaknya ini ke kampung, juga pindah sekolah disana. Amazing banget lah waktu itu ;) Ayah dan Ibu memang bersinergi dalam menyelaraskan hubungan keluarga.



Kita berjalan jauh ke tahun-tahun berikutnya yaaa, yang dimana ketika anak-anak sudah  beranjak dewasa. Ibu memutuskan untuk menyudahi karir nya (2014), yang waktu itu masih ada 9 tahun lagi jatah kerjanya. Sulit bagi Ibu untuk resign dari tempat kerjanya, karena prestasi dia yang baik dalam bekerja, dan pada akhirnya dia diangkat sebagai supervisor di unit BRI RS Betha Medika, dan terakhir menjadi SDM di Cabang. Ibu mengajukan pengunduran diri beberapa kali, tetep saja di tolak. Akhirnya Ibu mengundurkan diri secara sukarela (PDS), tanpa ada apa-apa.
Kata ampuh yang bikin putrinya merinding ketika dia berhadapan dengan Pimpinan dan meminta untuk resign adalah: “Begini Pak, kalau memang BRI menjamin saya masuk Syurga, saya akan terus bertahan disini, tpi karena Syurga saya ada di dekat suami saya, maka saya ingin mendampingi suami saya menuju Syurga itu”, kurang lebih intinya gitulah kalimatnya yang saya tangkap. Finally, Ibu merelakan jabatannya yang sudah 25 tahun ia bangun. Karena selama ini ketika Ayah kerja diluar, Ibu belum bisa mendampingi penuh, disebabkan oleh pekerjaan dan anak-anak yang masih kecil. Tapiii, Alhamdulillah senang sekali mendengar kehidupan Ibu sekarang, bisa bebas dari keterikatan pekerjaan. Selain ikut Ayah di Jeddah, Ibu juga sekarang bebas untuk menjenguk anak-anaknya dimanapun dan kapanpun, tanpa harus izin cuti dari kantor yang terbatas dan kring kring bunyi telepon kantor ketika kami berlibur, hehe. Sudah gak ada lagi hal ituuuu :P


Oke, pelajaran yang dapat di ambil dari seorang Ibu itu banyaaak banget nget nget… Tapi salah satu yang saya highlight sekarang adalah:  Apapun pekerjaan kita nanti, semua harus atas izin suami kita. Ini semua menjadi pelajaran berharga bagi putri satu-satunya ini. Ibu selalu berpesan, jadilah wanita yang solehah, berilmu, berbakti kepada suaminya, menjadi Ibu yang baik bagi putra-putrinya kelak, dan bermanfaat bagi orang banyak.
I love you so much, Bu!

You are my inspiration…