Rabu, 09 Maret 2016

Aku dan Penantian

Assalamu'alaykum... #catatanmuti

"Seseorang yang hadir dalam hidupku, karena sebuah alasan, dia akan datang menawarkan kebahagiaan dan juga kekecewaan.. Allah sengaja membiarkan aku bertemu dengan beberapa orang yang salah, sebelum akhirnya Allah mempertemukanku dengan orang yang tepat, agar aku bisa mensyukuri karuniaNya dan aku bisa belajar dari sebuah kesalahan."

Dulu...
Diri ini begitu mudahnya untuk percaya pada orang lain. Ketika ada yang mengatakan "Will you marry me?" dan akupun menjawab "Yes, I will. Jika memang serius dengan hal ini, silahkan langsung menghubungi kedua orangtuaku", karena aku tak ingin berlama-lama merajut kisah yang tidak halal pada akhirnya. Dalam pikiranku waktu itu, ini salah satu bentuk ikhtiarku, aku hanya berusaha membuka pintu "halfmydeen" itu dengan kunci yang aku miliki

Allah memperkenalkan banyak orang dalam kehidupanku saat itu, 
berbagai macam kisah, berbagai macam karakter, berbagai macam emosi, berbagai macam latar belakang; agama, keluarga, pendidikan, dan ekonomi. Alhamdulillah mereka datang dengan sebuah niat yang baik, aku sangat salut dengan keberanian mereka untuk bertemu dengan kedua orangtuaku kala itu (Hebat! Tak semua orang bisa seperti itu). Selalu berpikir positif dengan semua yang terjadi maupun yang belum terjadi, inilah ikhtiarku, memohon yang terbaik bagi keluargaku dan anak-anakku kelak.

Bagiku, jika seseorang itu sudah menyatakan keseriusannya, maka apapun yang terjadi akan diusahakan dengan baik kedepannya. Ya.... Rencana hanya tinggal rencana, detik-detik perjalanan menuju bahtera itu banyak sekali ujiannya. Benar apa yang banyak orang bilang, kalau jodoh, pasti dilancarkan. Kalau bukan ya sebaliknya. Ah ya Allah, begitukah prosesnya, harus merasakan sakit dulu baru kita bisa merasakan nikmatnya kebahagiaan. Dalam sujud sepanjang malam hanya bisa menangis, meminta yang terbaik.

Kisah membingungkan ini terus berulang, tangispun mengiringi kisahku yang usang... Mengapa Allah menguji masa penantian ini dengan keberadaan mereka, dengan segala proses penantian diluar dugaan dan rencanaku? Rasanya semua pintu sudah aku buka satu persatu untuk menemukan sosok laki-laki yang akan menemaniku ke syurgaNya. Sampai sempat berpikir "Ya Allah, aku sudah tidak mampu, cukuplah". Pada masa itu, Allah terus mengujiku kembali, dan semakin Allah menguji dengan hebatnya, entah kenapa semakin erat juga aku memegang tanganNya. Satu kalimat yang sering aku ucapkan "Jangan tinggalin Muti ya Allah".

Kita hanya manusia biasa, kita yang merencanakan tapi tetaplah Allah yang menentukan, kita tidak bisa melakukan apa-apa jika bukan karena kehendakNya. Semua ada ditangan Allah, Dia yang Maha membolak-balikan hati seseorang, Dia yang tahu apa yang kita butuhkan. Dia segalanya bagiku...

My dear who has written in Lawh Mahfudz..
Aku tak pernah menyalahkanmu untuk datang terlambat dalam kehidupanku, karena aku selalu yakin bahwa kita akan dipertemukanNya di waktu, kondisi, dan tempat yang tepat :) Bagiku masa lalu adalah masa dimana aku belajar bagaimana karakter golonganmu, karena selama ini yang aku kenal adalah sosok laki-laki yang baik seperti Ayah dan kedua saudara laki-lakiku. Ternyata tidak semua dari mereka seperti itu, tidak semua tulus, tidak semua menghormati kedua orangtua, tidak semua mentaati penciptanya, tidak semua menjadikan syurga sebagai tujuan dalam hidupnya, dan tidak semua dari mereka menjadikan Allah sebagai penolongnya. Ya! Allah memperkenalkan mereka agar aku lebih bersyukur dan terus belajar, karena hidup ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Setiap insan memiliki ujian dan jalan ceritanya masing-masing untuk meraih JannahNya.

Where are you? Rasanya tak mudah pula aku bertemu denganmu. Kamu adalah apa yang Allah titipkan untukku.. Karena Allah lah yang mengetahui apa yang aku butuhkan; siapakah yang pantas untuk mendampingiku menuju SyurgaNya, membimbingku dalam mencetak generasi terbaik pada zamannya, dan kita bersujud bersama mengaharap keridhaanNya.. Karena aku sadar bahwa ketenangan dan kebahagiaan hidup ini adalah keimanan yang terpatri dalam qalb kita.

Sampai detik ini aku tak pernah tahu siapa dirimu, sedang apa dirimu..
Entah kapan waktu itu tiba, biarlah waktu berjalan sebagaimana mestinya. Saat ini, tugasku bukan mencari dirimu, tapi mensolehahkan diriku sendiri agar pantas berada disampingmu.

Rasanya Allah sedang mengujiku dalam penantian ini. Aku hanya perlu memantaskan diriku sebelum kita bertemu dalam ikatan halalNya. Sampai nanti waktunya tiba, semestapun bertasbih, semoga semuanya bisa merasakan kebahagiaan atas terikatnya sebuah janji suci itu dihadapan Allah, InsyaAllah.. Semenjak itulah aku menjadi milikmu, kamu imamku dalam ibadahku, selalu sama-sama berusaha menjalankan perintahNya, mendapatkan ridhaNya, dan kita akan sama-sama menuju syurgaNya.

Aku akan menunggu disaat kau mengimami solatku dan aku mengaminkan segala do'amu. InsyaAllah bersama Allah kita sama-sama arungi kehidupan dunia ini menuju JannahNya :)
Sabarlah dalam membimbingku nanti, aku hanya wanita biasa yang membutuhkanmu untuk menjadi sosok yang luar biasa dihadapamu dan dihadapan Tuhan kita, Allah :)
InsyaAllah....

I will see you soon.... 

Selasa, 16 Februari 2016

Hai, It's me! (Ibu's Story)

Assalamu'alaykum... #catatanmuti

Kurang lebih sembilan bulan raga ini berada di dalam rahimnya. Allah meniupkan ruh pada rahimnya dan menjadikan diri ini sebagai salah satu Khalifah di muka bumi ini.. Thanks for everything, Ibu!

Her name is Yeni Supartini. Ibu terlahir dari seorang Bapak TNI (Aki) dan seorang Mama (Enin) yang dari kecil di asuh dan berada di lingkungan seorang petinggi di Sukabumi kala itu. Mendengar cerita Ibu tentang sosok Aki, membuat saya rindu untuk bisa bertemu dengan sosok beliau; gagah, "aya hima an", bodor, jujur, berprinsipdan pada akhirnya semua orang segan dan hormat kepadanya. On the other hand, Aki ini seorang yang suka bercanda juga dan pandai bersosialisasi dengan orang lain. Walau saya tak sempat bertemu dengannya, tapi begitulah sosok Aki yang selama ini saya tangkap dari semua cerita Ibu dan keluarganya :)




Ibu merupakan anak kedua dari delapan bersaudara. Tapi karena kakak Ibu sakit sejak kecil, beliau meninggal pada waktu balita, kalau tidak salah usia 2 tahun. Dan Ibu lah sekarang yang menjadi anak tertua diantara ke enam adiknya (4 perempuan dan 2 laki-laki). Mereka berasal dari keluarga yang terpandang kala itu di Nagrak, Jampang Kulon. Kalau ke Jampang, ibaratnya satu kecamatan yang luas itu, semuanya keluarga, hihi, lirik tetangga kanan kiri depan belakang, semuanya keluarga. Alhamdulillah...

Sampai pada suatu hari, Bapaknya Ibu sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit. Ketika itu Ibu berusia remaja, SMA. Kalau gak salah Aki itu sakit diabetes yang berdampak pada jantungnya (Jadi kalau dari garis keturunan, si saya ini sangat kuat banget turunan penyakit diabetes. Karena kedua orang tua dari pihak Ayah dan Ibu, dulu meninggal karena penyakit tersebut. Sebetulnya bukan karena penyakit turunan sih ya, tapi pola hidup yang diturunkan, hehe.). Karena di kampung tidak tersedia alat kesehatan yang memadai, akhirnya Aki di rujuk ke RSPAD di Jakarta.

Dari awal yang mengantar Aki sakit itu adalah Ibu, putri pertamanya. Karena Enin harus mengurus anak-anak yang lain di kampung. Bisa dibayangkan seorang remaja perempuan dari kampung, datang ke kota besar seperti Jakarta, untuk mengantarkan Bapaknya berobat. Gak tau jalan, uang seadanya (maklum gak ada ATM atau GPS kayak sekarang, hihi), pokoknya serba gak tau dan terbatas, Alhamdulillah Allah memberikan mereka petunjuk, dan akhirnya sampailah di RSPAD. Saya kurang tahu tentang lamanya Aki dirawat di sana. Tapi yang Ibu suka ceritakan, Aki itu waktu sakit aja gak bisa diem, ngobrol sana-sini, seperti tidak sedang sakit parah. Malahan menurut penuturan Ibu, anaknya (Ibu) beli mie ayam, beiau juga "ngarewong" makanannya, maklum lah ya, sama-sama seneng jajan, hehe. Makanya dulu Aki suka bilang ke orang-orang kalau putrinya ini harus kerja karena hobinya jajan sama kayak Bapaknya (dan terbukti kerja, hehe). Selain itu, dulu Ibu yang full merawat Aki ketika sakit, sampai Ibu bisa pasang "kateter" buat Aki. Proud of you, bu!

Dan akhirnya, tidak lama dari situ (setelah diputuskan membaik oleh dokter dan boleh pulang ke rumah dengan keadaaan yang sudah membaik), di rumah Nagrak Sari, Aki pun berpulang kepangkuanNya.. Semoga Aki diberikan kebaikan selalu ya disana, we miss you so much, Aki Empin :)




Dan dari situlah, perjuangan Ibu dimulai, sebagai anak pertama, dengan seorang Mama yang tidak bekerja dan hanya mendapat uang pensiun bulanan untuk membiayai ketujuh anaknya. Setelah lulus SMA, ibu diambil oleh Uwa nya di Sukabumi (kakaknya Mama). Sebelumnya, Ibu juga pernah dibawa ke Bogor oleh saudaranya yang lain, kehidupan yang “tidak baik” membuat Ibu diambil kembali oleh Uwanya ke Sukabumi. Pahit dan sulitnya hidup sudah pernah Ibu rasakan di perkotaan. Akhirnya di Sukabumi lah si gadis Ibu berlabuh, Ibu ikut pelatihan kursus akutansi waktu itu dan masuk kerja di BRI. Di BRI Sukabumi sendiri Ibu merupakan salah satu angkatan wanita pertama di BRI kala itu. Sewaktu itu, Ibu tinggal di rumah Uwa nya dulu, Ibu bantu-bantu mereka juga dan mengurus sepupu-sepupunya yang masih kecil sebelum kerja. Beberapa waktu kemudian, setelah dirasa semuanya aman, Ibu pun membawa beberapa adiknya ke kota dan menyewa rumah disana. Ibu menyekolahkan dan menghidupi adik-adiknya. Hingga waktunya menikah dengan Ayah, Ibu juga masih membawa adik-adiknya, karena itu sudah menjadi tanggung jawab Ibu sebagai seorang kakak.

Ayah dan Ibu menikah pada tahun 1990 di rumah Uwa Ibu di Nyomplong. Dan tahun 1991 lahirlah Akang, dan tahun berikutnya lahirlah saya. Berbicara soal melahirkan, Akang dan saya itu berbeda satu tahun saja, Akang Juni 1991 dan saya Juli 1992. Kalau liat dari tubuhnya sih kayak anak kembar kala itu, beda wajah aja kayaknya, hehe. Masa-masa kritis itu, Alhamdulillah bisa Ayah dan Ibu lewati. Tak mudah bagi seorang Ibu yang harus bekerja di luar rumah, mempunyai dua anak yang masih kecil dan membawa adik-adiknya serta merta. Terlebih lagi bekerja di Bank, bisa dibayangkan pakepuk nya seperti apa. Ya inilah perjuangan, demi keluarga, demi anak-anak, semua usaha dilakukannya.



Nah, tahun 1999, ketika perekonomian sudah membaik karena Ayah kerja di Hongkong kala itu, lahirlah seorang baby yang berambut tebal dan keriting, ampuuun deh lucunya tu baby, gemeees. Jadi dulu itu Ayah berdoa supaya diberikan lagi anak satu, laki-laki atau perempuan tidak masalah, yang penting "curly hair", karena kedua anaknya waktu itu gak ada yang keriting, sedangkan Ayah itu berasal dari keluarga yang rambutnya keriting semua. Supaya ada keturunan keriting lah ya intinya, haha. Alhamdulillah bulan Oktober 1999 lahirlah pasukan baru di kelurga kami :)



Sebagai gambaran, bekerja di Bank kala itu, staf-stafnya suka di oper-oper tempat kerjanya, baik dari kota ke kampung atau sebaliknya. Ibu pernah merasakan kerja di hampir semua unit bank di Sukabumi. Paling jauh ya di Surade, sampai harus memboyong ketiga anaknya ini ke kampung, juga pindah sekolah disana. Amazing banget lah waktu itu ;) Ayah dan Ibu memang bersinergi dalam menyelaraskan hubungan keluarga.



Kita berjalan jauh ke tahun-tahun berikutnya yaaa, yang dimana ketika anak-anak sudah  beranjak dewasa. Ibu memutuskan untuk menyudahi karir nya (2014), yang waktu itu masih ada 9 tahun lagi jatah kerjanya. Sulit bagi Ibu untuk resign dari tempat kerjanya, karena prestasi dia yang baik dalam bekerja, dan pada akhirnya dia diangkat sebagai supervisor di unit BRI RS Betha Medika, dan terakhir menjadi SDM di Cabang. Ibu mengajukan pengunduran diri beberapa kali, tetep saja di tolak. Akhirnya Ibu mengundurkan diri secara sukarela (PDS), tanpa ada apa-apa.
Kata ampuh yang bikin putrinya merinding ketika dia berhadapan dengan Pimpinan dan meminta untuk resign adalah: “Begini Pak, kalau memang BRI menjamin saya masuk Syurga, saya akan terus bertahan disini, tpi karena Syurga saya ada di dekat suami saya, maka saya ingin mendampingi suami saya menuju Syurga itu”, kurang lebih intinya gitulah kalimatnya yang saya tangkap. Finally, Ibu merelakan jabatannya yang sudah 25 tahun ia bangun. Karena selama ini ketika Ayah kerja diluar, Ibu belum bisa mendampingi penuh, disebabkan oleh pekerjaan dan anak-anak yang masih kecil. Tapiii, Alhamdulillah senang sekali mendengar kehidupan Ibu sekarang, bisa bebas dari keterikatan pekerjaan. Selain ikut Ayah di Jeddah, Ibu juga sekarang bebas untuk menjenguk anak-anaknya dimanapun dan kapanpun, tanpa harus izin cuti dari kantor yang terbatas dan kring kring bunyi telepon kantor ketika kami berlibur, hehe. Sudah gak ada lagi hal ituuuu :P


Oke, pelajaran yang dapat di ambil dari seorang Ibu itu banyaaak banget nget nget… Tapi salah satu yang saya highlight sekarang adalah:  Apapun pekerjaan kita nanti, semua harus atas izin suami kita. Ini semua menjadi pelajaran berharga bagi putri satu-satunya ini. Ibu selalu berpesan, jadilah wanita yang solehah, berilmu, berbakti kepada suaminya, menjadi Ibu yang baik bagi putra-putrinya kelak, dan bermanfaat bagi orang banyak.
I love you so much, Bu!

You are my inspiration…

Minggu, 31 Januari 2016

Hai, It is Me! (Ayah's Story)

Assalamu'alaykum #catatanmuti...

Diawali dengan mengenalkan seorang Ayah, pahlawan tanpa tanda jasa.. Tanpanya, saya tak akan pernah hadir di dunia ini, semua sudah menjadi rencanaNya, oleh sebaik-baiknya Perencana, ALLAH SWT :)

His name is Deni Rohadian. Ayah terlahir dari Ibu yang berasal dari Sukabumi dan Bapaknya yang berasal dari Bogor, masih sama-sama suku Sunda ya... Mereka adalah seorang pedagang dan menerima jasa percetakan (sablon) di daerah Kebonjati, Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia). Bisa dibilang dari segi pendidikan formal, orangtuanya tidak terlalu konsen pada hal pendidikan, ya bisa dibilang "saguluyurna we", hehe. Dan beruntungnya, dari 5 bersaudara, hanya Ayah lah yang bisa melewati jenjang pendidikan S1 dan S2. Alhamdulillah...

Melihat perjuangan Ayah untuk sekolah sejak itu, patut putrinya acungi jempol, hehe. Ayah bilang dulu Ayah itu termasuk siswa yang "tidak pintar" dikelasnya, apalagi jika dihadapkan dengan mata pelajaran matematika, gak sanggup!! hehe. Eh eh eh, sekarang malah jadi guru matematika yang bisa mengantarkan banyak murid memahami ilmu logika ini. Matematika itu sulit, tapi sebetulnya menyenangkan loh! Teruus, apa sih yang membuat Ayah bisa sampai menjadi sekarang? Yang tadinya menjadi salah satu murid yang belum pintar di antara kawan-kawannya dan sekarang malah matematika ini sudah menjadi passion nya, bahkan bisa mengantarkan dirinya untuk tinggal dan mengajar di luar negeri. Setelah ditelusuri, ternyata Ayah ini mempunyai modal rajin dan tekun dalam mengerjakan apapun. Good job, Dad! (Konon hal ini turun sama putri satu-satunya ini loh, "gak pinter, tapi rajin" haha).

Sayangnya dulu kita tak punya kamera untuk mengabadikan moment-moment berharga itu, hehe.

Okay, masih berbicara tentang Ayah ni... Ayah itu adalah laki-laki pekerja keras, bertanggung jawab, laki-laki hebat yang pernah saya temui. Kasih sayang dan perjuangannya itu sangat besar untuk keluarganya. Menurut penuturan Ibu, sejak dulu Ayah itu berangkat subuh pulang malam, karena jarak rumah dan sekolah itu jauh dan Ayah mencari tambahan uang dari ngeles muridnya ke rumah-rumah (yang jaraknya dari satu tempat ketempat lain itu jauh), pakai angkutan umum pula. Kenapa sampe segitunya? Demi sekaleng susu "Morinaga", dan biaya hidup yang gak sedikit pada waktu itu. Beberapa diantaranya adalah untuk biaya kontrak rumah panggung, sekolah S1, biaya hidup kedua anaknya, membantu Ibu membiayai ke enam adiknya, dsb. Allah lah yang memberi rezeki kepada setiap makhlukNya, kita sebagai makhlukNya hanya bisa berusaha untuk menjemput rezeki yang telah Allah hamparkan di bumi ini...

Kira-kira sejak saya berusia 6 atau 7 tahun, yang waktu itu sudah sekolah di Taman Kanak-Kanak, Ayah Alhamdulillah mendapat kesempatan untuk mengajar di Luar Negeri, tepatnya di negara Hongkong. Dari sana Alhamdulillah kami bisa hidup layak, tapi ujiannya kita semua harus berpisah dalam waktu 4 tahun, karena Ibu kerja juga di Indonesia, jadi gak bisa ikut Ayah ke Hongkong, dan kedua anaknyapun ikut Ibu tinggal di Sukabumi. Yang paling menyedihkan kata ayah adalah ketika tiba waktunya pulang ke Indonesia, sejak bertemu di Bandara, Akang dan Teteh (sebutan untuk anak ke-1 dan ke-2) bengong dan tidak kenal dengan Ayahnya sendiri. Ayah nangis dan sedih katanya (hehe) sambil peluk anak-anaknya. Belum ngeh kali ya, karena masih kecil, dan yang hanya saya ingat adalah saya mendapat banyak boneka dan barbie dari Ayah waktu itu, haha. Dan itu menyenangkan bagi si saya kecil.

Setelah mengajar di Hongkong, Ayah kembali ke Indonesia dan mengajar di SMA tempat saya sekolah dulu, SMA Negeri 1 Kota Sukabumi. Menurut uwa-uwa yang pernah Ayah ajari, Ayah itu guru yang tegas, lurus dan disegani oleh murid-muridnya. Yang saya ingat pada masa itu, dulu saya pernah di ajak masuk kelas ketika Ayah mengajar di kelas (waktu itu kelas SD kayaknya), dan suka diajak untuk mengambil gaji bulanan dan setelahnya jalan-jalan dan jajan, hha. Sangat menyenangkan!

Tak lama dari itu, Ayah dipercaya menjadi seorang Kepala Sekolah di SMP Islam An-Nuur, sekolah yang
didirikan oleh salah satu tokoh terbaik di daerah saya, Ust. Abdul Razak (Alm). Sejak Ayah diangkat menjadi kepala sekolah, bertepatan dengan masuknya saya dari SD ke SMP. Pada saat itu ambisi saya yaitu ingin masuk SMP Negeri dan ikut program Akselerasi.  Dan kemudian Ayah bilang, "Boleh teteh masuk sekolah Negeri, tapi Ayah lebih senang kalau teteh masuk sekolah yang Ayah pimpin, karena Ayah ingin mendidik teteh langsung dibawah pengawasan Ayah." Akhirnya saya urungkan untuk masuk sekolah Negeri waktu itu, sedih juga, karena saudara-saudara dan teman-teman seangkatan masuk sekolah Negeri yang bergengsi pada waktu itu :( Akhirnya saya berpikir, sekolah dimanapun, ridha orangtualah yang utama, keikhlasan dan do'a-do'a mereka yang akan menembus langit. InsyaAllah.


SMP Islam An-Nuur. Yang saya rasakan ketika kepemimpinan ada di tangan Ayah, SMP ini berkembang dengan pesat, murid terbanyak yang pernah ada sepanjang sejarah di An-Nuur bahkan sampai saat ini, banyak soft skill yang Ayah berikan untuk murid-muridnya; PKH, Pramuka, Bela Diri, Sablon, budidaya Jamur, dan ekstrakurikuler lainnya. Yang saya suka adalah program sebelum masuk kelas, kita berkumpul di mesjid dan solat dhuha bersama serta berdoa bersama sebelum masuk kelasGreat! Alhamdulillah Allah berikan keberkahan untuk Ayah. Oia, walaupun Ayah sebagai kepala sekolah, Ayah itu suka bersih-bersih kantor, kelas, sapu-sapu sekolah loh! Jarang liat kepala sekolah melakukan itu sekarang. Tidak hanya berani memimpin, tapi juga terjun langsung dan menjadi contoh buat yang lain, termasuk kepada anaknya sendiri. Di Sekolah, dia tidak pernah membedakan anak-anaknya dengan murid yang lain. Malah lebih "strict" dalam mendisiplinkan anaknya, karena bagaimanapun anak-anaknya akan menjadi contoh dan figur bagi orang lain. Proud of you, Ayah!




Tak lama dari itu, Ayah kembali melamar kerja di luar negeri. Alhamdulillah mendapat panggilan menjadi guru di Singapore selama 4 tahun. Dan kembali lagi ke Indonesia, mengajar di SMK Negeri 1 Kota Sukabumi. Dan Kembali mendapat panggilan untuk mengajar di Jeddah hingga saat ini (tahun ke 5). Walaupun jauh, tapi Alhamdulillah berkahnya Ayah bisa umrah satu minggu sekali pada hari Jum’at ke Mekkah dan sekarang ada Ibu yang menemani setiap harinya.


Do’anya ya semoga Ayah diberikan kesehatan, kebaikan, dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Aamiin ya Rabbal’alamiin…


"Cikaracak ninggang batu, lila-lila jadi legok" (Papatah Sunda).