Assalamu'alaykum #catatanmuti...
Diawali dengan mengenalkan seorang Ayah, pahlawan tanpa tanda jasa.. Tanpanya, saya tak akan pernah hadir di dunia ini, semua sudah menjadi rencanaNya, oleh sebaik-baiknya Perencana, ALLAH SWT :)
His name is Deni Rohadian. Ayah terlahir dari Ibu yang
berasal dari Sukabumi dan Bapaknya yang berasal dari Bogor, masih sama-sama
suku Sunda ya... Mereka adalah seorang pedagang dan menerima jasa percetakan
(sablon) di daerah Kebonjati, Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia). Bisa
dibilang dari segi pendidikan formal, orangtuanya tidak terlalu konsen pada hal
pendidikan, ya bisa dibilang "saguluyurna we", hehe. Dan
beruntungnya, dari 5 bersaudara, hanya Ayah lah yang bisa melewati jenjang
pendidikan S1 dan S2. Alhamdulillah...
Melihat
perjuangan Ayah untuk sekolah sejak itu, patut putrinya acungi jempol, hehe.
Ayah bilang dulu Ayah itu termasuk siswa yang "tidak pintar"
dikelasnya, apalagi jika dihadapkan dengan mata pelajaran matematika, gak
sanggup!! hehe. Eh eh eh, sekarang malah jadi guru matematika
yang bisa mengantarkan banyak murid memahami ilmu logika ini.
Matematika itu sulit, tapi sebetulnya menyenangkan loh! Teruus, apa sih yang
membuat Ayah
bisa sampai menjadi sekarang? Yang tadinya menjadi salah satu murid yang belum
pintar di antara kawan-kawannya dan sekarang malah matematika ini sudah menjadi
passion nya, bahkan bisa mengantarkan dirinya untuk tinggal dan mengajar di luar negeri. Setelah ditelusuri,
ternyata Ayah ini mempunyai modal rajin dan tekun dalam mengerjakan apapun. Good job, Dad! (Konon hal ini turun sama
putri satu-satunya ini loh, "gak pinter, tapi rajin" haha).
Sayangnya dulu kita tak punya kamera untuk mengabadikan moment-moment berharga itu, hehe.
Kira-kira
sejak saya berusia 6 atau 7 tahun, yang waktu itu sudah sekolah di Taman
Kanak-Kanak, Ayah Alhamdulillah mendapat kesempatan untuk mengajar di Luar
Negeri, tepatnya di negara Hongkong. Dari sana
Alhamdulillah kami bisa hidup layak, tapi ujiannya kita semua harus berpisah
dalam waktu 4 tahun, karena Ibu kerja juga di Indonesia, jadi gak bisa ikut
Ayah ke Hongkong, dan kedua anaknyapun ikut Ibu tinggal di Sukabumi. Yang
paling menyedihkan kata ayah adalah ketika tiba waktunya pulang ke Indonesia,
sejak bertemu di Bandara, Akang dan Teteh (sebutan untuk anak ke-1 dan ke-2) bengong
dan tidak kenal dengan Ayahnya sendiri. Ayah nangis dan sedih katanya (hehe)
sambil peluk anak-anaknya. Belum ngeh kali ya, karena masih
kecil, dan yang hanya saya ingat adalah saya mendapat banyak boneka
dan barbie dari Ayah waktu itu, haha. Dan itu menyenangkan bagi si saya kecil.
Setelah
mengajar di Hongkong, Ayah kembali ke Indonesia dan mengajar di SMA tempat saya
sekolah dulu, SMA Negeri 1 Kota Sukabumi. Menurut uwa-uwa yang pernah Ayah
ajari, Ayah itu guru yang tegas, lurus dan disegani oleh murid-muridnya. Yang
saya ingat pada masa itu, dulu saya pernah di ajak masuk kelas ketika Ayah mengajar di kelas
(waktu itu kelas SD kayaknya), dan suka diajak untuk mengambil gaji bulanan dan
setelahnya jalan-jalan dan jajan, hha. Sangat menyenangkan!
Tak lama dari itu, Ayah dipercaya menjadi seorang Kepala Sekolah di SMP Islam An-Nuur, sekolah yang didirikan oleh salah satu tokoh terbaik di daerah saya, Ust. Abdul Razak (Alm). Sejak Ayah diangkat menjadi kepala sekolah, bertepatan dengan masuknya saya dari SD ke SMP. Pada saat itu ambisi saya yaitu ingin masuk SMP Negeri dan ikut program Akselerasi. Dan kemudian Ayah bilang, "Boleh teteh masuk sekolah Negeri, tapi Ayah lebih senang kalau teteh masuk sekolah yang Ayah pimpin, karena Ayah ingin mendidik teteh langsung dibawah pengawasan Ayah." Akhirnya saya urungkan untuk masuk sekolah Negeri waktu itu, sedih juga, karena saudara-saudara dan teman-teman seangkatan masuk sekolah Negeri yang bergengsi pada waktu itu :( Akhirnya saya berpikir, sekolah dimanapun, ridha orangtualah yang utama, keikhlasan dan do'a-do'a mereka yang akan menembus langit. InsyaAllah.
Tak lama dari itu, Ayah dipercaya menjadi seorang Kepala Sekolah di SMP Islam An-Nuur, sekolah yang didirikan oleh salah satu tokoh terbaik di daerah saya, Ust. Abdul Razak (Alm). Sejak Ayah diangkat menjadi kepala sekolah, bertepatan dengan masuknya saya dari SD ke SMP. Pada saat itu ambisi saya yaitu ingin masuk SMP Negeri dan ikut program Akselerasi. Dan kemudian Ayah bilang, "Boleh teteh masuk sekolah Negeri, tapi Ayah lebih senang kalau teteh masuk sekolah yang Ayah pimpin, karena Ayah ingin mendidik teteh langsung dibawah pengawasan Ayah." Akhirnya saya urungkan untuk masuk sekolah Negeri waktu itu, sedih juga, karena saudara-saudara dan teman-teman seangkatan masuk sekolah Negeri yang bergengsi pada waktu itu :( Akhirnya saya berpikir, sekolah dimanapun, ridha orangtualah yang utama, keikhlasan dan do'a-do'a mereka yang akan menembus langit. InsyaAllah.
SMP
Islam An-Nuur. Yang saya rasakan ketika kepemimpinan ada di tangan Ayah, SMP ini
berkembang dengan pesat,
murid terbanyak yang pernah ada sepanjang sejarah di An-Nuur bahkan sampai saat
ini, banyak “soft skill” yang Ayah berikan untuk murid-muridnya; PKH, Pramuka, Bela Diri, Sablon,
budidaya Jamur, dan ekstrakurikuler lainnya. Yang saya suka adalah program
sebelum masuk kelas, kita berkumpul di mesjid dan solat dhuha bersama serta
berdoa bersama sebelum masuk kelas. Great!
Alhamdulillah Allah berikan keberkahan untuk Ayah. Oia,
walaupun Ayah sebagai kepala sekolah, Ayah itu suka bersih-bersih kantor,
kelas, sapu-sapu sekolah loh! Jarang liat kepala sekolah melakukan itu
sekarang. Tidak hanya berani memimpin, tapi juga terjun langsung dan menjadi contoh buat yang lain, termasuk
kepada anaknya sendiri. Di Sekolah, dia tidak pernah membedakan anak-anaknya
dengan murid yang lain. Malah lebih "strict" dalam
mendisiplinkan anaknya, karena bagaimanapun anak-anaknya akan menjadi contoh
dan figur bagi orang lain. Proud of you, Ayah!
Tak
lama dari itu, Ayah kembali melamar kerja di luar negeri. Alhamdulillah
mendapat panggilan
menjadi guru di Singapore selama 4 tahun. Dan kembali lagi ke Indonesia,
mengajar di SMK Negeri 1 Kota Sukabumi. Dan Kembali mendapat panggilan untuk
mengajar di Jeddah hingga saat ini (tahun ke 5). Walaupun jauh, tapi Alhamdulillah
berkahnya Ayah bisa umrah satu minggu sekali pada hari Jum’at ke Mekkah dan
sekarang ada Ibu yang menemani setiap harinya.
Do’anya
ya semoga Ayah diberikan kesehatan, kebaikan, dan keselamatan di
dunia dan di akhirat. Aamiin ya Rabbal’alamiin…
"Cikaracak ninggang batu, lila-lila jadi legok" (Papatah Sunda).


